Mengamati Politik: Marissa Haque Fawzi

Mengamati Politik: Marissa Haque Fawzi
Mengamati Politik: Marissa Haque Fawzi

Hatta Rajasa & Tjatur Sapto Edy, Kader PAN, Bersama No. 8 Progress Selalu

Hatta Rajasa & Tjatur Sapto Edy, Kader PAN, Bersama No. 8 Progress Selalu
Hatta Rajasa & Tjatur Sapto Edy, Kader PAN, Bersama No. 8 Progress Selalu (dlm Desy Ratnasari, MSi, DR. Marissa Haque, Ahmad. Z. Ikang Fawzi, MBA)
Tampilkan postingan dengan label christine panjaitan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label christine panjaitan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Februari 2012

"Marissa Haque Fawzi: Politik Lingkungan Hidup & Sumberdaya Alam dalam Sistem Hukum & Kebijakan di IPB"

Thursday, March 01, 2012 07:50 AM

Entertainment

Marissa Grace Haque Graduates with a Doctorate

Theresia Sufa, The Jakarta Post, Bogor | Wed, 02/29/2012 4:53 PM
Marissa Grace Haque. (Courtesy of the Bogor Institute of Agriculture)
Marissa Grace Haque. (Courtesy of the Bogor Institute of Agriculture)Celebrity Marissa Grace Haque graduated with a doctorate from the Bogor Institute of Agriculture’s (IPB) natural resource management and environment studies on Wednesday.

“I am majoring in environmental study focusing on illegal logging. The research was conducted in Riau because it is the sexiest region, geographically,” Marissa said after the graduation ceremony inside Grawida Hall at the Darmaga campus in Bogor.



When asked why she chose environmental studies, the wife of rock-star Ikang Fawzi said that it was because of her academic background in legal and business studies.

“My thesis statement was ‘crime is driven by economy, while the vehicle is politics’,” she said.

She also said that she would leave for East Timor on March 5 after being invited by the country’s agriculture and women’s empowerment ministries to commemorate World Women’s Day.

Marissa said that she would stay in East Timor for 10 days, while being involved in various discussions related to environmental and women’s empowerment issues.

“Environmental issues are very important because there are three things which can make human survive: water, air and food,” she said.

“These three things are getting reduced. Water sustainability is already damaged while food is getting scarcer due to the bigger population.” (nvn)

Source: http://www.thejakartapost.com/news/2012/02/29/marissa-grace-haque-graduates-with-a-doctorate.html


"Marissa Haque Fawzi: REUNI dengan Teman-teman Program Doktor IPB (2012)"

Selasa, 07 Februari 2012

"Hari Ini Saya Masih Diserang oleh Dee Kartika Djumadi (Diduga Penjahat Cyber): Mohon Dibaca oleh Dr. Arif Satria, Prima Gandhi (HMI), Alvin Adam (Just Alvin), Addie MS & Memes"

Berikut bahan untuk Alvin Adam cs di Metro TV  untuk Acara "Just Alvin."

Sampai detik ini tertanggal 7 Februari 2012, saya yang bernama Marissa Grace Haque Fawzi masih merasakan serangan cyber-bully dari yang diduga bernama Dee Kartika Djumadi. Saya sedang berpikir keras "harus diapakan" orang yang bersangkutan tersebut agar berdampak jera. Karena sejujurnya saya dan keluarga merasa sangat terganggu! Allahu Akbar...


Untuk mengetahui siapa yang bersangkutan pelaku teror cyber tersebut (diduga bernama Dee Kartika Djumadi) dan kualitas manusia seperti apa dirinya itu, alangkah baiknya kita semua pelajari informasi dari seorang sahabat bernama Mas Sony Kusumasondjaja FORUM KAHMI di DIKTI, sebagai berikut di bawah ini:


Sent: Tuesday, January 17, 2012 7:47 PM
Subject: tentang kartika dee

  Assalamualaikum wr.wb.
Dear rekan-rekan Diktiers,

Mungkin sebagian rekan Diktiers sempat mendengar adanya konflik yang melibatkan artis lawas yang saat ini masuk ke dunia politik - Marissa Haque. Konflik yang sedang hangat muncul di tayangan infotainment Indonesia tersebut memang bersumber pada Marissa Haque sedang terlibat perang di media Twitter dengan musisi senior, Addie MS - beserta istrinya, Memes, dan putranya, Kevin Aprilio. Namun, mungkin tidak banyak yang paham, bahwa konflik tersebut bermula dari ketersinggungan Marissa Haque yang dituding oleh seseorang di media Twitter juga. Tuduhan tersebut mengatakan bahwa disertasi Marissa Haque di Program S3 IPB sebenarnya tidak layak diluluskan karena dibuatkan orang lain. Nah, masalah menjadi berkembang ke mana-mana bahkan sampai melebar ke konflik pribadi antara Marissa Haque dengan keluarga Addie MS. Bagi yang ingin memahami kronologis kisahnya, silakan mengunjungi/membaca notes yang saya tulis di Facebook saya yang berjudul "Sebuah Catatan tentang Perang Kamseupay". Nah, di sini saya tidak akan mengupas masalah kehidupan selebritis kita yang memang seringkali tidak bisa masuk dalam nalar saya. Saya ingin menyoroti soal tuduhan kepada Marissa Haque tentang disertasinya; lebih tepatnya menyoroti tentang "siapa sebenarnya yang melontarkan tuduhan tersebut". 
 
Tuduhan tersebut dilontarkan oleh seseorang bernama Dyah Kartika Rini Djoemadi. Siapa beliau..? Beliau adalah aktivis di berbagai organisasi profesi, termasuk DPP HIPMI dan KADIN Indonesia. Beliau juga (pernah) aktif di Partai Amanat Nasional dan pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Komunikasi Kreatif PP PAN pada sekitar 2007. Beliau memiliki perusahaan konsultan kebijakan publik bernama SpinDoctor Indonesia. Dan beliau juga (pernah) menjabat sebagai senior fellows/experts di Paramadina Public Policy Institute, serta sebagai Dosen Pascasarjana di perguruan tinggi di Jakarta, termasuk di Universitas Indonesia. 
 
Yang menjadi persoalan adalah bahwa Ibu Dyah Kartika Rini Djoemadi - atau biasa dipanggil Kartika Djoemadi atau Dee Kartika - dalam berbagai kesempatan menyebut dirinya sebagai lulusan PhD di bidang Ekonomi Makro dari Universiteit van Amsterdam, Belanda. Hal ini bisa teman-teman baca dan lihat sendiri dalam print-out berbagai situs di Internet yang saya rangkum dan saya attach di postingan ini. Pengakuan sebagai lulusan PhD dari Amsterdam ini cukup aneh, karena pada April 2007, beliau masih menyebut dirinya sedang “menyelesaikan Program Doktoral di bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia” (lihat attachment “Dee Kartika di Media Massa4”), dan pada Februari 2009, beliau juga menyatakan “masih menyelesaikan disertasi di S3 Komunikasi UI” (lihat attachment “Dee Kartika di Media Massa5”). Namun, pada bulan September 2011, di website Paramadina Public Policy Institute, pada halaman profil Senior Fellows/Experts di Institut tersebut, beliau menyebut diri sebagai PhD in Macro Economic from University van Amsterdam, the Netherland (lihat attachment “profil Paramadina Public Policy Institute (lama)”). Lalu, dalam berbagai profil beliau – mulai dari situs LinkedIn, MySpace, profil pendiri (founder) di website perusahaan SpinDoctors, profil Board of Director di website perusahaan SpinDoctors, dan lain-lain, beliau selalu menyebut diri sebagai PhD di bidang Ekonomi Makro dari Universiteit van Amsterdam. Semua informasi yang menjadi bukti-bukti statement ini sudah saya lampirkan dalam attachment. 
 
Nah, pada tanggal 2 Januari 2012, seorang rekan PhD student yang sedang menempuh studi di Leiden University bernama Buni Yani menanyakan kepada beliau melalui email, apakah benar beliau lulusan PhD dari Universiteit van Amsterdam. Dan beliau mengiyakan. Setelah menanyakan kebenaran hal ini kepada pihak Universiteit van Amsterdam, ternyata pihak Universiteit van Amsterdam memberikan klarifikasi melalui email (lihat attachment “Klarifikasi Universiteit van Amsterdam”) bahwa tidak pernah ada student bernama Dyah Kartika Rini Djoemadi terdaftar di Universiteit van Amsterdam. Bahkan, di website School of Economics Universiteit van Amsterdam (http://ase.uva.nl/aseresearch/object.cfm/objectid=DA8E9304-C6EB-4172-AD771508C05A11DB) yang menampilkan daftar nama lulusan PhD yang berhasil mempertahankan disertasinya di bidang Ekonomi Makro di universitas tersebut sejak tahun 2005 sampai dengan 2011, tidak tercatat nama Dyah Kartika Rini Djoemadi. Informasi dari rekan Aprina Murwanti (University of Wollongong, Australia), DIKTI juga tidak pernah mencatat penyetaraan ijazah luar negeri dari Belanda – dalam bidang ilmu apapun – atas nama Dyah Kartika Rini Djoemadi (silakan lihat http://ijazahln.dikti.go.id/v4/detail_negaraptr.php?kodept=604017&page=1 ). 
 
Pertanyaan yang mengusik benak saya adalah:
SATU 
Apabila beliau menyelesaikan Master di Komunikasi UI pada tahun 2002 dan pada April 2007 serta Februari 2009 mengaku masih menyelesaikan program Doktoral di Komunikasi UI, lalu bagaimana bisa beliau mencantumkan gelar PhD bidang Ekonomi Makro dari Universiteit van Amsterdam pada tahun 2011? Setahu saya, program Doktoral di Belanda tidak bisa diselesaikan dalam waktu 2 tahun saja. Jadi, bagaimana mungkin..? 
 
DUA
Apabila nama beliau tidak terdaftar di database Universiteit van Amsterdam, tidak tercatat sebagai lulusan di School of Economics, Universiteit van Amsterdam, dan tidak tercatat dalam daftar lulusan luar negeri yang menyetarakan ijazahnya di Dikti, lalu bagaimana bisa beliau mencantumkan gelar PhD bidang Ekonomi Makro, Universiteit van Amsterdam dalam berbagai kesempatan dan pada berbagai media..? 
 
TIGA
Kalau memang beliau menempuh studi di Program Doktoral Komunikasi UI, bagaimana mungkin beliau mendapatkan gelar PhD..? Bukankah UI memberikan gelar DR – dan bukan PhD – kepada lulusan S3-nya..? Kalaupun beliau lulusan dari S3-UI, bagaimana mungkin, nama beliau di berbagai media selalu disebut sebagai lulusan PhD dari Universiteit van Amsterdam..? 
 
EMPAT
Kalau memang beliau adalah lulusan PhD dari Universiteit van Amsterdam sebagaimana yang beliau akui, lalu mengapa saat ini, beliau menghapus semua keterangan tentang riwayat pendidikan beliau di berbagai situs yang menampilkan profil atau CV beliau..? Dulu di situs LinkedIn, MySpace, profil Kompasiana, profil di perusahaan beliau, beliau selalu menyatakan diri sebagai lulusan PhD bidang Ekonomi Makro, Universiteit van Amsterdam. Record ini masih bisa dilacak di search engine Google sampai hari ini – dan sebagian besar sudah saya scan dan saya lampirkan dalam email ini. Namun, kalau kita membuka situsnya (tidak dari Google), keterangan bahwa beliau adalah lulusan PhD dari Amsterdam sudah dihapuskan. Apa yang sebenarnya terjadi..? 
 
LIMA
Upaya konfirmasi kepada beliau sudah dilakukan oleh banyak pihak. Melalui media Twitter (yang seringkali digunakan oleh beliau), banyak pihak – termasuk Pak Buni Yani di Leiden University, saya, Ibu Aprina Murwanti (University of Wollongong), pak Agung Tri Setyarso (Jepang),  dan lain-lain – meminta kepada beliau untuk menyebutkan (1) judul disertasi/penelitian PhD beliau, (2) nama supervisor PhD beliau, dan (3) tanggal defense sidang PhD di Universiteit van Amsterdam, namun tidak pernah dijawab dan tidak pernah direspon. Padahal, kalau memang (misalnya) terjadi kesalahan dalam system database di Universiteit van Amsterdam yang menyebabkan nama beliau tidak tercatat sebagai student maupun sebagai lulusan – informasi tentang judul penelitian dan nama supervisor serta tanggal defense itu bisa digunakan tidak hanya untuk mengkonfirmasi gelar PhD beliau, tapi juga untuk menyampaikan terjadinya kesalahan pencatatan dalam database universitas sekelas Universiteit van Amsterdam. Konfirmasi juga bisa dilakukan langsung kepada supervisor beliau, bukan..? Komputer dan database bisa saja mengalami error, tapi semestinya supervisor beliau akan masih mengingat beliau sebagai salah satu mahasiswa bimbingan PhD-nya. Sayang sekali, beliau tidak bersedia menyebutkan tiga informasi yang kami tanyakan di atas. 
 
Proses korespondensi antara rekan Buni Yani dan Kartika Djoemadi – di awal-awal munculnya “pertanyaan” tentang benar tidaknya gelar PhD tersebut, bisa dilihat di attachment “Korespondensi Email Dee Kartika”. 
 
Dengan rentetan kejadian ini, mau tidak mau, wajar saja jika muncul kecurigaan saya bahwa telah terjadi kecurangan atau mungkin kejahatan akademis – menggunakan gelar akademis tanpa hak. Saya sebagai seorang insan akademik merasa sangat terusik dengan hal ini. Yang membuat saya jadi gelisah adalah bahwa ada seseorang yang aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan, aktif di Partai Politik, dan aktif pula menjadi tenaga pengajar dan peneliti yang menggunakan gelar PhD tersebut tanpa hak. Dan, sayangnya, beberapa orang yang mengetahui kasus ini memilih untuk berdiam diri – ada yang beralasan “tidak mau mengorek-ngorek aib orang”, ada yang beralasan “demi persahabatan”, dan lain-lain. 
 

Saya juga tidak paham, bagaimana Kemendiknas atau Dikti/Ditnaga atau Universitas Indonesia atau Universitas Paramadina atau lembaganya Paramadina Public Policy Institute akan merespon dugaan pemalsuan gelar ini.  
 
Masa sih, mereka tidak tahu keributan yang terjadi di media Twitter selama hampir dua minggu ini..? Ataukah ini memang bukanlah kejahatan akademik sebagaimana yang saya kira selama ini..? Apakah memang benar, bahwa seseorang boleh saja dan sah-sah saja menyematkan atribut PhD (tanpa harus benar-benar memperolehnya secara sah) - lalu menggunakan atribut itu untuk tampil sebagai pembicara, sebagai peneliti di sebuah lembaga riset, sebagai dosen, dll..? Saya hanya berpikir, kalau kejadian seperti ini kita diamkan selamanya, niscaya hal seperti ini akan menjadi sesuatu hal yang lumrah terjadi di Indonesia. Betapa mengerikannya apabila hal itu betul-betul membudaya di dunia pendidikan Indonesia. 
 
Di sini, saya tidak bermaksud untuk mengorek-ngorek aib yang bersangkutan. Saya juga tidak berminat untuk jadi pahlawan kesiangan. Saya tidak kenal beliau secara personal, dan saya juga tidak kenal Marissa Haque yang sempat menjadi “musuh online” beliau. Posting ini saya tujukan di milis ini (1) sebagai bentuk keprihatinan saya akan kejadian yang sangat menyedihkan ini, (2) sebagai upaya “perlawanan” atas kejahatan akademis yang mungkin telah terjadi tapi tidak terlalu diperhatikan, dan (3) sebagai upaya permintaan tolong seandainya rekan-rekan Diktiers semua memiliki pandangan atau ide tentang apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghadapi masalah ini. 
 
Demikian informasi ini saya sampaikan, semoga bermanfaat, dan menggugah kita semua untuk berbuat sesuatu. Maaf apabila ada rekan-rekan yang kurang berkenan dengan posting ini.  Maaf juga karena saya terpaksa melampirkan attachment yang ukurannya sangat besar. Mohon dimaklumi, karena meskipun isinya adalah file yang saya cetak dari Internet, sebagian besar file tersebut sudah susah untuk diakses (ada yang sudah dihapus, dll), terutama kalau kita tidak terlalu menguasai trik-trik pencarian menggunakan search engine. 


Terima kasih
Wassalaumalaikum wr.wb.

SONY KUSUMASONDJAJA 

 "Hari Ini Saya Masih Diserang oleh Dee Kartika Djumadi (Diduga Penjahat Cyber):  Mohon 
 Dibaca oleh Dr. Arif Satria, Prima Gandhi (HMI), Alvin Adam (Just Alvin), Addie MS & Memes"

Kamis, 22 Desember 2011

"Duh! Semoga Angelina Sondakh Tetap dalam Iman Islamnya: Marissa Haque Fawzi"

Sabtu, 17 Desember 2011 20:23 WIB

Sumber: http://pekanbaru.tribunnews.com/mobile/index.php/2011/12/17/marissa-haque-hubungan-angie-berpotensi-bocorkan-strategi-kpk

Marissa Haque: Hubungan Angie (Angelina Sondakh) Berpotensi Bocorkan Strategi KPK

JAKARTA, TRIBUN - Artis senior yang juga politisi, Marissa Haque mengatakan, hubungan asmara antara politisi Partai Demokrat, Angelina Sondakh dengan penyidik KPK, Kompol Raden Brotoseno, berpotensi kebocoran strategi internal KPK kepada partai dalam menangani kasus korupsi Wisma Atlet, seperti dituduhkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.

Marissa yang telah Doktor (S3) dari IPB dan menyelesaikan disertasi tentang Illegal Logging di Riau ini menjelaskan, dari ukuran etika, apa yang mereka lakukan sangat tidak etis. "Mengingat dari kacamata hukum,  apa yang dituduhkan Nazarudin ke Angie terhadap delik pidana gratifikasinya, menuju ke arah TSK alias tersangka," jelas istri rocker Ikang Fawzi ini, Sabtu (17/12/2011).

Icha, panggilan akrab Marissa Haque, memuji kejelian mantan Ketua KPK, Busyro Muqoddas, dalam mengungkap hubungan asmara antara penyidik dengan Angie. Ibu dua anak yang telah menyelesaikan program MBA dari FEB Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sekarang sedang menyelesaikan Program MH dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga ini menjelaskan, bahwa saat di dalam kelas hukum yang mahasiswa sebagian besar dari kepolisian dan kejaksaan, muncul informasi bahwa Kompol Broto kekasih Angie tersebut bukan minta pindah tapi dipindahkaan. Dari kelas hukum tersebut juga beredar kabar jika keduanya baru berkenalan selama dua bulan ini saat Angie disidik.

Saat ini Icha (Marissa Haque) sembari menghabiskan sisa tahun 2011 sedang merampungkan penulisan buku mengenai batik tandem bersama anak salah seorang Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis UGM, Meta Thereskova.

Editor : zulham
Source : Tribunnews
"Duh! Semoga Angelina Sondakh Tetap dalam Iman Islamnya: Marissa Haque Fawzi"

Senin, 14 November 2011

Marissa Haque: Seperti di Riau, Mengerikan Kalau Negara Tak Sanggup Menyentuh Kriminal Korupsi Birokrat Propinsi Banten (Diduga)

 

DUGAAN KORUPSI: Ratu Atut Chosiyah Dilaporkan ke KPK
Icha Rastika | Latief | Rabu, 28 September 2011 | 19:26 WIB
ICHA RASTIKA Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Aliansi Independen Peduli Publik (AIPP) melaporkan Gubernur Provinsi Banten, Ratu Atut Chosiyah ke Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Rabu (28/9/2011). 
JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Aliansi Independen Peduli Publik (AIPP) melaporkan Gubernur Provinsi Banten Ratu Atut Chosiyah, ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (28/9/2011). Atut dianggap bertanggung jawab atas pengelolaan dana hibah dan bantuan sosial Provinsi Banten 2011 yang diduga telah diselewengkan.

Paling tidak, ada sepuluh lembaga penerima hibah diduga fiktif di beberapa daerah. Total anggaran untuk lembaga fiktif tersebut sebesar Rp 4,5 miliar.
-- Abdullah Dahlan

”Dalam laporan itu, disebut inisial RAC (Ratu Atut) dan EK (Engkos Kosasih),” ujar peneliti dari Divisi Politik ICW, Abdullah Dahlan, di Gedung KPK, Rabu (28/9/2011).

Pemrov Banten diketahui menyalurkan dana hibah sebesar Rp 340 miliar ke 221 organisasi, forum masyarakat, dan instansi negara, serta menyalurkan dana bansos senilai Rp 51 miliar ke 160 lembaga.

Menurut Abdullah, ada lima jenis penyimpangan dalam pengelolaan program hibah dan bansos yang totalnya Rp 391 miliar itu. Penyelewengan pertama, dana hibah itu diberikan kepada lembaga-lembaga fiktif.

”Paling tidak, ada sepuluh lembaga penerima hibah yang diduga fiktif di beberapa daerah. Total anggaran untuk lembaga fiktif tersebut sebesar Rp 4,5 miliar,” katanya.

Perwakilan AIPP, Uday Suhada, menambahkan, dari 18 organisasi penerima hibah, hanya lima yang terdaftar sebagai organisasi formal.

”Di luar lembaga yang bersangkutan tidak diketahui legal atau tidak. Padahal, lembaga penerima hibah harus berbadan hukum, setidaknya tiga tahun,” ungkap Uday.

Penyelewengan kedua, lanjut Abdullah, sejumlah lembaga penerima hibah memiliki alamat yang sama.

”Setidaknya, ada delapan penerima hibah yang memiliki alamat sama, yaitu di Jalan Bridgen Syam'un, Kota Serang, dan empat lembaga dengan alamat sama, yaitu Jalan Syekh Nawawi Albantani Palima, Serang,” paparnya.

Padahal, dana hibah itu seharusnya diterima oleh lembaga-lembaga yang jelas nama dan alamatnya.
”Alokasi dana untuk masing-masing lembaga di Jalan Bridgen KH Syam'un sebesar Rp 22,5 miliar dan yang di jalan Syekh Nawawi total Rp 6,4 juta,” kata Abdullah.

Penyelewengan ketiga, dana tersebut dialirkan ke lembaga-lembaga yang dipimpin oleh keluarga gubernur.

”Mulai dari suami, kakak, anak, menantu, dan ipar,” ucap dia.

Abdullah mencontohkan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) yang dipimpin suami Ratu Atut, Hikmat Tomet.

”Total hibah yang masuk ke lembaga yang dipimpin keluarga gubernur mencapai Rp 29,5 miliar,” ujarnya.

Keempat, dana hibah ini juga diduga telah dipangkas. Jumlah dana hibah yang diterima lembaga penerima tidak sesuai dengan pagu yang ditetapkan Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Banten.

”Contohnya, Lembaga Kajian Sosial dan Politik (Laksospol) Pandeglang. Dalam daftar penerima, lembaga itu memperoleh hibah Rp 500 juta. Tapi, surat pernyataan Ketua Laksospol Ayie Erlangga, mereka hanya terima Rp 35 juta,” papar Abdullah.

Adapun kerugian dari pemotongan tersebut mencapai Rp 925 juta. Terakhir, sebagian besar penerima bantuan sosial itu tidak jelas.

”Dari 160 penerima dana bansos, pemerintah daerah hanya mencantumkan 30 nama lembaga atau kepanitiaan dan tidak didukung alamat jelas,” ujar Abdullah.

Oleh karena itu, ICW dan AIPP meminta KPK melakukan penyelidikan terhadap pemberian dana bansos dan hibah tersebut. Dikhawatirkan, lanjut Abdullah, pemerintah daerah menjadikan kebijakan publik sebagai instrumen modal politik. Terlebih, ICW melihat bahwa alokasi dana hibah dan bansos Provinsi Banten terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.

”Kenaikannya fantastis, pada 2009 totalnya mencapai Rp 74 miliar, tapi pada 2011, menjelang pilkada meningkat Rp 391 miliar,” tukasnya.

Minggu, 25 September 2011

"Marissa Haque Fawzi: Kreatifitas Angelina Sondakh Teruji Tangguh (Seiring dengan Pemeriksaan Kasus Delik Pidana Gratifikasinya)"

buku-angelina_sondakh-dalam-marissa-haque-ikang-fawzi 

Angelina Rilis Buku Kedua

Minggu, 25/09/2011 - 19:09

MUNADY/"PRLM"
2-delik-pidana-gratifiasi-angelina-sondakh-di-kpk-dalam-marissa-haque-ikang-fawzi-2011

JAKARTA, (PRLM).- Anggota DPR Angelina Sondakh Massaid kembali meluncurkan buku lagu dan bergambar yang kedua setelah buku "Bernyanyi bersama Keanu".

Buku "Jazz For Fun" sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya, karena menurut istri almarhum Adjie Massaid buku ini.untuk bisa anak anak sambil belajar dan mendengarkan musik

1-delik-pidana-gratifiasi-angelina-sondakh-di-kpk-dalam-marissa-haque-ikang-fawzi-2011"Jadi anak indonesia punya lagu, dengan buku ini mudah mudahan bisa menjadi lagu anak anak seperti lagu Doa Untuk Papa dan Mama yang liriknya ditulis Adjie Massaid semasa hidupnya tapi lagu ini baru diluncurkan," tutur Angelina.

"Ada bebera lagu dalam album kedua karena dengan buku ini anak- anak bisa pintar, biasanya anak-anak suka dengerin musik tapi kalau sudah denger musik mereka kadang malas belajar tapi lewat buku ini yang pasti ada lagu di vcd dan buku ada gambarnya," kata Angelina ditemui di toko buku Gramedia Matraman Jakarta Timur, Minggu 25/9. (Mun/A-88)***

"Marissa Haque Fawzi: Kreatifitas Angelina Sondakh Teruji Tangguh (Seiring dengan Pemeriksaan Kasus Delik Pidana Gratifikasinya)"

Sumber:
(1) http://www.pikiran-rakyat.com/node/159668
(2) http://www.jpnn.com/read/2011/09/26/103871/Angelina-Sondakh-Libatkan-Zahwa-di-Buku-Kedua

Senin, 29 Agustus 2011

Terimakasih Banyak Jakarta Press yang Baik untuk Keseimbangan Berita Politik Kami: Marissa Haque Fawzi

Inilah Kebersamaan Ala Ikang & Marissa

Sumber: http://www.jakartapress.com/detail/read/3890/inilah-kebersamaan-ala-ikang-marissa

Inilah Kebersamaan Ala Ikang & Marissa


Jakartapress.com - Hidup berumah tangga hingga 24 tahun tanpa masalah serta dikaruniai dua putri yang cantik-cantik, tampaknya sangat disyukuri pasangan artis juga politikus Marissa Haque dan Ikang Fawzi.

Tentu pasangan ini sangat berbahagia, mampu mempertahankan biduk rumah tangga di tengah maraknya artis kawin cerai. Apalagi, keduanya memiliki tingkat kesibukan cukup tinggi, sehingga itensitas pertemuan dengan keluarga tidak terlalu banyak.

Sibuk dengan aktifitas sudah pasti kegiatan Ikang maupun Marissaa di hari-harinya. Tapi, kebersamaan tidak pernah terabaikan. Mereka selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga di sela aktifitas yang selalu padat.  Menurut Ikang maupun Marissa hanya dengan cara kebersamaan itulah  kenyamanan keluarga dapat tercipta.

Kenyamanan keluarga, itu sendiri akan menjadi ruang pertama untuk meraih segala hal. Apa yang diraih dalam keluarga dan prestasi anak-anaknya tidak lepas dari keberadaan keluarga yang kondusif.

Kebersamaan saat menjalankan ibadah Sholat. Kata Ikang, keluarganya selalu sholat berjamaah.
“Sukses saya, sukses istri dan anak-anak berangkat dari kondisi rumah tangga, kalau di rumah tangga adem tidak ada permasalah, Insya Alllah berimbas baik untuk anak-anak,” kata mantan rocker yang sukses dengan lagu “Preman”.
Diakui pria 51 tahun itu, dalam perjalanan rumah tangga tidak ada tanpa rintangan. Problem-problem keluarga itu pasti ada. Hanya saja bagaimana cara menghadapi dan mencari solusinya.
Jadi, Sebagai kunci keluarga adalah kebersamaan termasuk dalam berdoa pun kebersamaan menjadi unsur penting terkabulnya keinginan. Selain itu landasan cinta menjadi pondasi dalam membangun keluarga.

Apa yang diterapkan dalam keluarga mendapat dukungan dari kedua putri-putrinya. Isabella Muliawati Fawzi dan Marsha Chikita Fawzi, putri pertama dan kedua mereka mengaku sangat bangga dengan apa yang diajarkan orang tuanya.  Meskipun saat ini Chikita berada di  Malaysia kuliah dan bekerja sebagai animator.
Sementera Marisaa mengaku memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk menentukan pilihan. Termasuk pekerjaan dan meski harus meninggalkan orang tua. Sesuatu yang baik harus mendapat dukungan, agar apa yang dijalani berbuah sukses.

“Saya tidak pernah menuntut anak-anak saya untuk menjadi seperti orang tuanya. Pasangan keluarga artis tak menuntut anak-anaknya harus menjadi seperti kami,” kata wanita berumur 48 tahun yang tinggal bersama keluarga di di Perumahan Pelangi Bintaro, Tangerang Selatan. [lin/l]

Wadduuuh...Saya Diberitakan Pindah ke PAN: Marissa Haque Fawzi

ci
PS: Alhamdulillah saya senang-senang saja dengan berita positif ini...subhanallah...


Marissa Haque Akan Pidah ke PAN?

ARTIS cantik yang menjadi politisi, Marissa Haque, mengisyaratkan dirinya makin dekat ke Partai Amanat Nasional (PAN). Hal itu terlihat saat isteri Ikang fazwzy ini melakukan silaturahmi ke pendopo keluarga besar pendiri PAN, Amien Rais, di Yogyakarta, Jumat pekan lalu.

"Di sana saya diterima anak menantu Pak Amien Rais, istri dari Hanafi Rais beserta Ibu dan anak-anaknya. Juga Hanum Rais, putri Pak Amien, yang memiliki hobi sama dengan saya, yakni menulis," kata Icha, sapaan akrab Marissa, kepada wartawan, Rabu (24/8/2011).

Ketika disinggung apakah kunjungannya itu sebagai sinyal bergabungnya dia ke PAN, mantan politis PDI Perjuangan dan PPP ini belum mau memastikan. Baginya, dirinya lebih menekankan untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar Amien Rais.

"Yang jelas saya merasa cocok dan ingin terus melanjutkan silaturahim demi kemajuan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami ingin melihat Mas Hanafi Amin Rais menjadi Walikota Yogyakarta 2011. Sebab, Mas Hanafi dan juga Prof. Amien Rais sangat mendukung keberadaan Baitul Maal Wa Tamwil (lembaga pemberdayaan eknomi mikro) seperti apa yang telah saya dapatkan dari hasil penelitian MBA ku,” tutur mantan Anggota Fraksi PDIP DPR RI ini.

Marissa Haque juga baru saja menyelesaikan studi ekonominya pada Kamis (18/8) lalu dan berhasil lulus dengan nilai "A" dari Fakultas Ekonomi Bisnis UGM.  Dia lebih memilih meletakkan fokus pada ekonomi mikro syariah berbasis kepada semangat Prof Mubyarto.

Biografi
Marissa Grace Haque atau Marissa Haque yang lahir di Balikpapan, 15 Oktober 1962, semula dikenal sebagai aktris film. Selanjutnya, istri penyanyi rock sekaligus pengusaha, Ikang Fawzi ini, melebarkan sayap menjadi seorang sutradara, produser film dan politikus.

Sebagai politikus, karier politik ibu dari Isabella Muliawati Fawzi (19) dan Marsha Chikita Fawzi (18) ini, diawali dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang kemudian mengantarkan dirinya menjadi anggota DPR-RI (2004).

Akibat konflik yang dilatarbelakangi soal pencalonan dirinya sebagai wakil gubernur Banten, mendampingi Zulkiflimansyah kandidat gubernur yang diangkat oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Syarikat Islam (PSI), Marissa akhirnya dipecat dari senayan oleh partainya.

Marissa Haque mengikuti Ayahnya yang merupakan karyawan PT. Pertamina, mulai bersekolah pada pendidikan TK dan SD Nasional di Palembang, Sumatra Selatan. Mengikuti kepindahan orangtuanya ke Jakarta, pada SD Tebet Timur Pagi III, SMP Negeri 73 Tebet, lalu dilanjutkan di SMA Negeri 8, Bukitduri, Jaksel sebagai sekolah menengah atas terbaik/unggulan negeri se-Indonesia. Mengikuti pendidikan sarjana (S1) pada Universitas Trisakti (Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat) Jakarta pada jurusan Hukum Perdata lulus pada tahun 1988. Mengikuti pendidikan program Magister in Humaniora (S2) di Universitas Katolik Atmajaya pada Fakultas Linguistik Terapan Bahasa Inggris jurusan Psicho-linguistics dengan keahlian utama pengajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak tuna-rungu. Pada tahun 2004 menjadai Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dan pada tahun 2006 menjadi kandidat Wakil Gubernur Banten.

Berbagai prestasi dan profesi telah diraih sejak tahun 1981. Mulai dari Pemenang Piala Citra sebagai Aktris Pembantu Wanita Terbaik pada FFI 1985 di Bandung dalam fil berjudul "Tinggal Landas Buat Kekasih" arahan Sutradara Sophan Sophiaan (alm) dimana penulis bertemu dengan suaminya saat ini Ikang Fawzi sebagai sesama aktor dan aktris pendukung, dan Best Actress pada FFAP/Asia Pacific Film Festival ke 62 di Taipei, Taiwan dalam Film berjudul "Matahari Matahari" arahan sutradar Arifin. C. Noor (alm). Diluar itu penulis juga terlibat sebagai pemain drama TV, model iklan, spoke person berbagai produk iklan, dan berbagai posisi profesional secara luas dalam bidang pendidikan kesejahteraan perempuan terkait ekonomi kecil dan mikro (UKM dan UMKM), kesehatan, serta pendidikan anak usia dini (PAUD).

Bersama sang suami penulis juga memiliki usaha dibidang rumah produksi PT. SAI Films (Saya Anak Indoensia) yang membuat film layar lebar, film dokumenter, iklan TV, iklan penyuluhan, dan lain sebagainya. Penulispun masih sempat sangat aktif berorganisasi di: (1) MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) sebagai Ketua Bidang Komunikasi dan Diseminasi Informasi; (2) KAHMI (Korps Alumni Mahasiswa Islam Indonesia sebagai Wakil Ketua Bidang Kesenian; (3) LAKMIS (Lembaga Keuangan Mikro Syariah) sebagai Ketua Bidang dari PPP Partai yang sekarang; dan (4) ASAHI (Asosiasi Auditor Hukum Indonesia) sebagai Ketua Bidang Komunikasi dari FH-UGM.

Menikah dengan Ikang Fawzi (Ahmad Zulfikar Fawzi), yang juga bersama kuliah pada pada fakultas dan jurusan Strategic Management di FEB (Fakultas Ekonomi-Bisnis), UGM. memiliki dua anak putri, yang pertama bernama Isabella Fawzi (Bella) lulus dari Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Inggris UI (Universitas Indonesia) dan kini meneruskan pada FISIP-UI jurusan Komunikasi, serta putri kedua bernama Marsha Chikita Fawzi (Kiki) masih kuliah di MMU (Malaysian Multimedia University), Malaysia pada Creative Multimedia Faculty jurusan Film Animation dengan spesialisasi Film Animation dan merupakan salah seorang animator serial TV produksi Malaysia Lez Copaque berjudul Upin dan Ipin.

Marissa melanjutkan pendidikan pada Program Doktor di PSL-IPB (Pusat Studi Lingkungan-Institut Pertanian Bogor) sejak 2006 sampai dengan akhir 2008 dan masih kuliah di Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum UGM Jurusan Business Law pada 2011 ini. (*/RM/Kpl)

Sumber: http://www.jakartapress.com/detail/read/3843/marissa-haque-akan-pidah-ke-pan

Prof.Dr. Gayus Lumbuun Temanku saat di DPR RI Dulu: Marissa Haque Fawzi

Gayus Akan Pindah 'Perahu'


ci

POLITISI Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Prof Gayus Lumbuun SH bakal pindah "perahu" yang ditumpanginya, yakni dari lembaga DPR RI menjadi hakim agung di Mahkamah Agung (MA).
Nama Gayus Lumbuun sudha mausk dalam 18 nama calon hakim agung yang diserahkan Komisi Yudisial (KY) kepada DPR. Sehingga DPR hanya akan memilih 6 dari 10 hakim agung yang diperlukan. Dan, dalam 18 nama calon itu ada beberapa nama anggota DPR RI antara lain Gayus Lumbuun. Nama-nama yang dijaring KY baru ada 18 nama dari 30 nama calon hakim agung.

Padahal mestinya menyerahkan 30 nama calon hakim agung, tiga kali lipat calon yang diperlukan. “KY sudah menjelaskan belum mampu mengirim 30 nama calon hakim agung. Karena itu DPR menerima saja 30 nama yang sudah disampaikan. KY tidak memungkinkan mengirim 30 calon hakim agung. Dan DPR tidak memaksakan kalau ternyata calon yang ada tidak memenuhi standar calon yang diperlukan," tandas Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso di Gedung DPR Jakarta, Senin (1-8-11).

Menurut Priyo, Komisi III DPR pun akan segera melakukan fit and proper test terhadap usulan KY tersebut. Untuk diambil 6 hakim agung dan menyisakan 4 kursi lainnya. "DPR menugaskan Komisi III untuk segera melakukan mekanisme fit and proper test. Dengan 18 calon tersebut maka DPR hanya akan memilih 6 calon hakim agung. Jadi praktis tersisa ada empat kursi hakim agung yang lowong dan DPR sudah meminta KY untuk menyeleksi calon hakim agung untuk mengisi kursi yang lowong," tambah Priyo.

Priyo menerima surat dari Komisi Yudisial (KY) yang berisi nama-nama calon hakim agung. Ia terkejut ada nama anggota DPR yang lolos seleksi itu. "Surat dari KY berisi nama calon hakim agung. Saya terkejut karena ada nama dari anggota DPR yang lolos. Namun demikian, proses seleksi yang dilakukan KY sudah maksimal. Nama-nama yang lolos seleksi akan mengikuti fit and proper test di DPR. Ada beberapa tokoh dari anggota DPR seperti Pak Gayus Lumbuun," ujarnya.
Sebelumnya, Gayus Lumbuun menyatakan dirinya siap meninggalkan partai PDIP untuk mewujudkan cita-citanya menjadi Hakim Agung. "Saya siap mundur jadi anggota maupun kader partai. Ketua umum,  Megawati mengijinkan," tegas mantan Ketua Badan Kehormatan DPR ini.
Gayus mengaku, selama duduk di komisi III DPR, dirinya aktif mebentukan perundang-undangan sebagai legislator. "Maka saya mempunyai keinginan sebagai pemutus UU yang saya buat," papar anak buah Megawati Soekarnoputri ini.
Guru besar hukum dan mantan Rektor Universitas Krisnadwipayan Jakarta ini mengemukakan, keadaan hukum saat ini menjadi salah satu yang memotivasi dirinya mengikuti seleksi Calon Hakim Agung. Menurutnya, dunia hukum dan peradilan saat ini  memerlukan tenaga baru untuk bersama-sama membangun peradilan yang berintegritas tinggi.

"Saya ingin MA menjadi bangker dimana integritas terhadap semuanya dan aktif dalam penegakan hukum dengan memperbaiki MA bersama-sama dengan yang lain," tegas mantan Anggota Pansus Century DPR yang kini calon kuat hakim agung ini.
Nama Lengkapnya adalah Prof Dr Topane GayusLumbuun SH MH, kelahiran Manado, 19 januari 1948. Anggota Komisi III DPR yang membidangi Hukum ini juga menbjabat Wakil Ketua Fraksi PDIP. Gayus terpilih menjadi wakil rakyat dari daerah asal pemilihan Jawa Timur (Jatim) V.
Usai mencalonkan diri sebagai hakim agung, Gayus Lumbuun segera keluar dari keanggotaan DPR dan PDIP. Pengunduran diri Gayus itu disetujui oleh Ketua Umum DPP PDIP dan Ketua Fraksi PDIP di DPR.

"Saya terhitung 15 Agustus 2011, awal sidang hari pertama saya minta untuk nonaktif. Beliau ( Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo) sudah menyetujui. Tujuannya supaya tidak terjadi konflik kepentingan," ujar Gayus Lumbuun saat dihubungi wartawan, Senin (1/8/2011).

Menurut Gayus, niat menjadi hakim agung sudah dipersiapkan sebelumnya. Karena ia memiliki kemampuan dan pendidikan di bidang hukum. "Materi hukum menjadi bagian yang saya persiapkan. Visi misi kalau diterima sebagai hakim agung, harus saya persiapkan. Saya mengatakan siap bertugas di Mahkamah Agung (MA) karena salah satunya cita-cita orang yang berlatar belakang hukum di berbagai negara adalah menjadi hakim agung," ungkapnya.

Konsekuensi untuk menjadi hakim agung adalah harus melepaskan segala atribut partai dan DPR sehingga nantinya ketika menjabat tidak terjadi konflik kepentingan. "Itu diatur kebebasan berpolitik masyarakat Indonesia di manapun. Hakim aguung tidak boleh berpolitik praktis, menjadi anggota organisasi parpol. Saya sudah mundur," jelasnya.

Gayus sudah menandatangani surat pengunduran diri sejak ia mendaftar menjadi hakim agung. DPP PDIP juga telah menyiapkan pengganti dirinya untuk duduk di Komisi III DPR.

"Saya tidak minta dibedakan karena anggota komisi III. DPP kan mempersiapkan pengganti sesuai penggantian. Pengantinya di bawah saya, kader PDIP yang memiliki suara terbanyak di bawah saya. Sekarang saya nonaktif dulu." (wan/inc)

Bersama DPW PAN Bengkulu Feb 2013, Mungkin Insya Allah Menjadi Dapilku Kelak

Bersama DPW PAN Bengkulu Feb 2013, Mungkin Insya Allah Menjadi Dapilku Kelak
Bersama DPW PAN Bengkulu Feb 2013, Mungkin Insya Allah Menjadi Dapilku Kelak (dlm Marissa Haque Ikang Fawzi).jpg